Showing posts with label Sales dan Marketing. Show all posts
Showing posts with label Sales dan Marketing. Show all posts
5 Fakta Penting Tentang Pelanggan
Fakta Pelanggan 1
Rata-rata sebuah perusahaan kehilangan 50% pelanggannya setiap 5 tahun sekali. Fakta lain yang sejalan dengan fakta ini adalah biaya untuk menggantikan mereka biasanya bisa 6-7 kali lebih mahal! Dan ini berarti, bahwa Anda mendapatkan manfaat 600% sampai 700% lebih besar untuk uang Anda dengan berinvestasi dalam mempertahankan dan melakukan pemasaran untuk pelanggan Anda yang sekarang daripada mencari pelanggan baru.
Pertanyaan – Berapa banyak Anda berinvestasi saat ini untuk menjaga pelanggan Anda yang sekarang berbanding dengan berapa banyak Anda berinvestasi untuk memperoleh pelanggan baru?
Fakta Pelanggan 2
Untuk setiap bulan bila Anda tidak menghubungi atau berkomunikasi dengan klien Anda, Anda kehilangan 10% dari pengaruh Anda dengan klien tersebut. Itu berarti, bahwa Anda harus berkomunikasi dengan klien Anda setiap bulan, bagaimana pun juga.
Pertanyaan – Berapa banyak Anda bersedia untuk berinvestasi untuk TIDAK kehilangan 10% dari pengaruh Anda dengan klien Anda setiap bulan?
Fakta Pelanggan 3
82% dari seluruh pemilik rumah tidak bisa menyebutkan nama agen real estate mereka, jika mereka membeli rumah mereka lebih dari dua tahun yang lalu. Bayangkan banyaknya penjualan yang hilang! Itu karena mereka tidak pernah mempertahankan hubungan pribadi dengan klien mereka. Dan saya yakin Anda akan setuju, bahwa ini berlaku untuk di banyak bisnis, tidak hanya di real estate saja.
Jadi … Strategi apa yang Anda miliki untuk memastikan Anda mempertahankan hubungan PRIBADI dengan klien Anda? (Pemasaran yang normal tidak cocok disini!)
Berikut adalah kisah yang hebat, yang diceritakan oleh Zig Ziglar. Ini kisah Joe Girard, yang saya rasa pastilah salah satu orang sales terbesar sepanjang masa. Dia jualan mobil. Dan wow, ia benar-benar menjual mobil! Bahkan, dia memegang semua rekor global untuk menjual mobil.
Ini yang dia hasilkan :
Tahun Penjualan
1963 267 mobil/truk
1964 307 mobil/truk
1965 343 mobil/truk
1966 614 mobil
1967 667 mobil
1968 708 mobil
1969 764 mobil
1970 843 mobil
1971 980 mobil
1972 1,208 mobil
1973 1,425 mobil
1974 1,376 mobil
1975 1,360 mobil
1976 lebih dari 1,200 mobil
1977 lebih dari 1,200 mobil
Itu sudah pasti lebih dari sebuah mobil dalam sehari selama lebih dari satu dekade! Bahkan, selama bertahun-tahun, ia menjual LIMA MOBIL SETIAP HARI! tidak ada tim sales yang sebanding dnegan pencapaian ini – mereka semua sales individu. Dan tidak ada “gratisan” – mereka semua benar-benar sales sejati.
Besarnya prestasi ini diluar akal. Joe adalah penjual mobil no satu di Amerika setiap tahun dari 1967-1977.
Apa rahasianya? Well, ada banyak alasan untuk keberhasilannya, tetapi di sini adalah salah satu yang mungkin ingin Anda renungkan.
Setiap bulan Joe mengirim kartu ucapan melalui pos untuk SETIAP pelanggannya. Pelanggannya lama-kelamaan menganggapnya seperti sebagai bagian dari keluarga.
Ini mengarah kepada pertanyaan : Apakah klien Anda berpikir Anda sebagai teman dekat atau anggota keluarga?
Fakta Pelanggan 4
Hanya mengucapkan terima kasih kepada klien Anda, bahkan dengan telepon untuk sekedar mengucapkan “terima kasih,” akan meningkatkan bisnis Anda sebanyak 17%.
Sekedar melakukan beberapa aritmatika mental …. berapakah 17% dari laba Anda saat ini?
Sekarang tanyakan pada diri sendiri beharga tidak untuk mengucapkan terima kasih?
Yang penting di sini adalah, bahwa dalam hubungan seperti ini, Anda seharusnya tidak “menjual.”
Ini bukan tentang penjualan. Ini adalah tentang hubungan.
Jadi … beberapa pertanyaan lagi
Seberapa sering Anda mengucapkan “terima kasih?”
Seberapa sering seharusnya Anda mengatakan “terima kasih?”
Fakta Pelanggan 5
Sesuatu yang lama tapi menarik … Peningkatan 5% pada loyalitas pelanggan akan menghasilkan 20% -80% pada laba Anda
Ada banyak penelitian mengenai hal yang satu ini!
pertanyaan terakhir
Apa yang bisa Anda lakukan dengan kenaikan 20% – 80% laba Anda?
sumber: http://startupbisnis.com/5-fakta-penting-tentang-pelanggan/
TIPS menjadi seorang marketing SUKSES
Trik di bawah ini akan membantu membuat klien atau si calon bos baru itu bertekuk lutut. Ada beberapa kendala yang biasanya dihadapi oleh mereka yang gagal mendapatkan klien.
1. Tidak Tahu Kebutuhan Klien
Kesalahan yang sering terjadi adalah Anda tidak faham kebutuhan klien. Keberhasilan jualan, ditentukan pula oleh seberapa besar pengetahuan Anda tentang kebutuhan mereka. Misal, mereka sedang butuh pasta gigi, eh, Anda malah memberinya sabun mandi. Kalau mau tahu yang mereka butuhkan, cari informasi kanan-kiri, baik dari eksternal maupun internal klien sendiri.
2. Deadline Selalu Jadi Alasan
Soal deadline yang mepet kerap dijadikan dalih ketidakberhasilan menembus klien.Buatlah time table, daftarlah deretan nama klien lengkap dengan catatan karakter tiap produk/kebutuhan, lalu segera hubungi mereka sepagi mungkin. Percaya deh, dalam sehari banyak sekali yang bisa Anda lakukan.
3. Berkelit dari Birokrasi Rumit
Tidak perlu gemas dan ingin ‘membunuh orang’. Coba dong selidiki siapa yang paling berwenang atau decision maker di perusahaan tersebut, dan lakukan pendekatan personal. Biasanya bila kepalanya sudah bisa dipegang, Anda bisa memotong jalur birokrasi yang berbelit-belit. Anda juga bisa mengerahkan jejaring Anda di perusahaan tersebut.
4. Keahlian Menjalin Hubungan
Tak bisa dipungkiri, kelihaian menjalin hubungan personal, cukup menentukan keberhasilan usaha Anda menggaet mereka. Anda tidak harus menjadi psikolog untuk memenangkan hati mereka. Ada beberapa sikap yang biasanya diperlihatkan klien:
* “Wah, mau banget tuh”
Tanpa bertele-tele, mereka langsung oke saat Anda menyodorkan tawaran. Sikap welcome mereka juga ditunjukkan dengan langsung menjadwalkan bertemu dan presentasi, serta terjadi interaksi yang positif antara Anda dan mereka.
Bila akhirnya terjadi transaksi, tetaplah berhubungan. Tanyakan perkembangan setelah mereka menjadi klien Anda. Mintalah komentar atau kritik dari mereka untuk meningkatkan pelayanan perusahaan Anda.
* “Pikir-pikir dulu deh”
Mereka sebenarnya butuh atau mungkin suka dengan tawaran Anda, tapi merasa masih ragu. Bila menemui calon klien seperti ini, jangan mundur. Prinsipnya, yakinkan klien bahwa Anda tahu persis kebutuhan mereka. Berikan sejumlah benefit buat mereka, seolah Anda memang men-service, bukan menjual.
Beri waktu untuk membuatnya kembali berpikir. Biarpun saat itu mereka menolak, suatu hari nanti, bila mereka butuh, Anda pastilah orang pertama yang dicari.
* Enggak minat ah”
Duh, sungguh menjengkelkan memang jika belum-belum mereka sudah bilang tidak berminat. Apa yang bisa dilakukan? Gali lagi latar belakang calon klien dan minat mereka, kemudian dekati dengan cara lain yang lebih personal.
Mengetahui hobi mereka, bisa menjadi celah. Kalau mereka hobi nonton, berikan dong tiket pertunjukan, atau sesekali main ke kantor calon klien, dengan membawa makanan, bergaul dengan orang kantor di sana, dan sebagainya. Lakukan pendekatan untuk membuka peluang, setelah itu, baru ciptakan suatu kebutuhan calon klien terhadap produk Anda.
* Iya sih…tapi…enggak deh”
Sikap dan kemauannya serba tidak jelas. Dibilang nolak, tapi enggak, dibilang oke, tapi kok nadanya nolak? Ah, Anda dibuat pusing oleh ketidakjelasannya. Cara terbaik untuk menghadapi klien seperti ini adalah cari tahu sikap yang sebenarnya. Sebelumnya, Anda perlu tahu dulu kebutuhannya.
Anda bisa mendapatkan info ini dari orang-orang yang bekerja dengannya, atau dari pihak luar yang pernah bekerjasama dengannya. Kalau setelah pendekatan, sikapnya masih ngambang, tidak perlu memaksakan diri. Lebih baik, cari calon klien lain yang lebih punya sikap.
5. Kemampuan Jual
Selain soal kemampuan menjual, ada hal-hal yang sebenarnya sepele, tapi punya manfaat besar dalam interaksi Anda dengan klien. Ini kaitannya dengan pembawaan Anda.
* Penampilan oke
Anda tidak perlu menggerutu jika punya wajah tidak secantik Tamara Bleszynski (dia sih satu banding seribu) Penampilan oke bisa diperoleh dengan berpakaian sesuai ‘tema’ (jangan berpakaian kasual jika Anda menawarkan produk yang sangat feminin). Lalu percaya dirilah (yang ditampilkan dengan bahu tegak, mata menatap pasti, dan senyum yang konstan). Sikap ini akan membuat Anda terlihat sebagai orang yang sukses. Orang tentu akan lebih senang bertransaksi dengan orang yang tampak sukses daripada gagal.
* In the mood
Simpan dalam peti untuk sementara suasana hati yang buruk akibat patah hati. Tampillah dengan penuh gairah saat bertemu calon klien. Sebab hanya dengan emosi yang stabil, dapat tercipta energi dan mood yang baik.
* Say cheese
Senyum itu murah tapi punya dampak yang luar biasa. Senyum juga menular pada orang lain. Dengan senyum Anda dapat mencairkan suasana yang kaku, meredakan ketegangan dan kemarahan. Sulit menemui klien? Perlihatkan dong senyum terbaik Anda.
* Panggil nama
Mereka lebih suka bila Anda menyebut nama, ketimbang memanggil mereka dengan sebutan ibu dan bapak saja. Anda toh tidak sedang berinteraksi dengan orang asing di kendaraan umum, kan?
* Nada dan tekanan suara
Biar pembicaraan tidak monoton, perhatikan nada dan tekanan suara. Ada kata-kata yang perlu diucapkan biasa, dan ada pula yang perlu diberi tekanan untuk menunjukkan pentingnya maksud tersebut.
* Selipkan Humor.
Di sela-sela pembicaraan, selipkan humor yang bisa menyegarkan suasana. Tapi, sebaiknya pilih-pilih humornya agar tidak menyinggung klien. Bukannya sukses, mereka malah kabur.
1. Tidak Tahu Kebutuhan Klien
Kesalahan yang sering terjadi adalah Anda tidak faham kebutuhan klien. Keberhasilan jualan, ditentukan pula oleh seberapa besar pengetahuan Anda tentang kebutuhan mereka. Misal, mereka sedang butuh pasta gigi, eh, Anda malah memberinya sabun mandi. Kalau mau tahu yang mereka butuhkan, cari informasi kanan-kiri, baik dari eksternal maupun internal klien sendiri.
2. Deadline Selalu Jadi Alasan
Soal deadline yang mepet kerap dijadikan dalih ketidakberhasilan menembus klien.Buatlah time table, daftarlah deretan nama klien lengkap dengan catatan karakter tiap produk/kebutuhan, lalu segera hubungi mereka sepagi mungkin. Percaya deh, dalam sehari banyak sekali yang bisa Anda lakukan.
3. Berkelit dari Birokrasi Rumit
Tidak perlu gemas dan ingin ‘membunuh orang’. Coba dong selidiki siapa yang paling berwenang atau decision maker di perusahaan tersebut, dan lakukan pendekatan personal. Biasanya bila kepalanya sudah bisa dipegang, Anda bisa memotong jalur birokrasi yang berbelit-belit. Anda juga bisa mengerahkan jejaring Anda di perusahaan tersebut.
4. Keahlian Menjalin Hubungan
Tak bisa dipungkiri, kelihaian menjalin hubungan personal, cukup menentukan keberhasilan usaha Anda menggaet mereka. Anda tidak harus menjadi psikolog untuk memenangkan hati mereka. Ada beberapa sikap yang biasanya diperlihatkan klien:
* “Wah, mau banget tuh”
Tanpa bertele-tele, mereka langsung oke saat Anda menyodorkan tawaran. Sikap welcome mereka juga ditunjukkan dengan langsung menjadwalkan bertemu dan presentasi, serta terjadi interaksi yang positif antara Anda dan mereka.
Bila akhirnya terjadi transaksi, tetaplah berhubungan. Tanyakan perkembangan setelah mereka menjadi klien Anda. Mintalah komentar atau kritik dari mereka untuk meningkatkan pelayanan perusahaan Anda.
* “Pikir-pikir dulu deh”
Mereka sebenarnya butuh atau mungkin suka dengan tawaran Anda, tapi merasa masih ragu. Bila menemui calon klien seperti ini, jangan mundur. Prinsipnya, yakinkan klien bahwa Anda tahu persis kebutuhan mereka. Berikan sejumlah benefit buat mereka, seolah Anda memang men-service, bukan menjual.
Beri waktu untuk membuatnya kembali berpikir. Biarpun saat itu mereka menolak, suatu hari nanti, bila mereka butuh, Anda pastilah orang pertama yang dicari.
* Enggak minat ah”
Duh, sungguh menjengkelkan memang jika belum-belum mereka sudah bilang tidak berminat. Apa yang bisa dilakukan? Gali lagi latar belakang calon klien dan minat mereka, kemudian dekati dengan cara lain yang lebih personal.
Mengetahui hobi mereka, bisa menjadi celah. Kalau mereka hobi nonton, berikan dong tiket pertunjukan, atau sesekali main ke kantor calon klien, dengan membawa makanan, bergaul dengan orang kantor di sana, dan sebagainya. Lakukan pendekatan untuk membuka peluang, setelah itu, baru ciptakan suatu kebutuhan calon klien terhadap produk Anda.
* Iya sih…tapi…enggak deh”
Sikap dan kemauannya serba tidak jelas. Dibilang nolak, tapi enggak, dibilang oke, tapi kok nadanya nolak? Ah, Anda dibuat pusing oleh ketidakjelasannya. Cara terbaik untuk menghadapi klien seperti ini adalah cari tahu sikap yang sebenarnya. Sebelumnya, Anda perlu tahu dulu kebutuhannya.
Anda bisa mendapatkan info ini dari orang-orang yang bekerja dengannya, atau dari pihak luar yang pernah bekerjasama dengannya. Kalau setelah pendekatan, sikapnya masih ngambang, tidak perlu memaksakan diri. Lebih baik, cari calon klien lain yang lebih punya sikap.
5. Kemampuan Jual
Selain soal kemampuan menjual, ada hal-hal yang sebenarnya sepele, tapi punya manfaat besar dalam interaksi Anda dengan klien. Ini kaitannya dengan pembawaan Anda.
* Penampilan oke
Anda tidak perlu menggerutu jika punya wajah tidak secantik Tamara Bleszynski (dia sih satu banding seribu) Penampilan oke bisa diperoleh dengan berpakaian sesuai ‘tema’ (jangan berpakaian kasual jika Anda menawarkan produk yang sangat feminin). Lalu percaya dirilah (yang ditampilkan dengan bahu tegak, mata menatap pasti, dan senyum yang konstan). Sikap ini akan membuat Anda terlihat sebagai orang yang sukses. Orang tentu akan lebih senang bertransaksi dengan orang yang tampak sukses daripada gagal.
* In the mood
Simpan dalam peti untuk sementara suasana hati yang buruk akibat patah hati. Tampillah dengan penuh gairah saat bertemu calon klien. Sebab hanya dengan emosi yang stabil, dapat tercipta energi dan mood yang baik.
* Say cheese
Senyum itu murah tapi punya dampak yang luar biasa. Senyum juga menular pada orang lain. Dengan senyum Anda dapat mencairkan suasana yang kaku, meredakan ketegangan dan kemarahan. Sulit menemui klien? Perlihatkan dong senyum terbaik Anda.
* Panggil nama
Mereka lebih suka bila Anda menyebut nama, ketimbang memanggil mereka dengan sebutan ibu dan bapak saja. Anda toh tidak sedang berinteraksi dengan orang asing di kendaraan umum, kan?
* Nada dan tekanan suara
Biar pembicaraan tidak monoton, perhatikan nada dan tekanan suara. Ada kata-kata yang perlu diucapkan biasa, dan ada pula yang perlu diberi tekanan untuk menunjukkan pentingnya maksud tersebut.
* Selipkan Humor.
Di sela-sela pembicaraan, selipkan humor yang bisa menyegarkan suasana. Tapi, sebaiknya pilih-pilih humornya agar tidak menyinggung klien. Bukannya sukses, mereka malah kabur.
Sumber : internet
10 Karakter unik konsumen Indonesia
Konsumen Indonesia ternyata mempunyai beberapa ciri khas dan karakter unik yang perlu dicermati dibandingkan dengan konsumen negara di Asia lainnya atau Amerika dan Eropa. Karakter ini perlu dipelajari untuk menyusun strategi pemasaran yang jitu agar mampu mendongkrak penjualan.
Dengan mengerti perilaku konsumen adalah bagian strategi pemasaran yang efektif. Chairman Frontier Consulting Group Handi Irawan mengelompokkan karakter konsumen Indonesia menjadi 10 jenis
Dengan mengerti perilaku konsumen adalah bagian strategi pemasaran yang efektif. Chairman Frontier Consulting Group Handi Irawan mengelompokkan karakter konsumen Indonesia menjadi 10 jenis
Karakter pertama, konsumen Indonesia mempunyai memori jangka pendek. Sebagian besar konsumen ingin memperoleh hasil atau keuntungan yang singkat dari hasil pembelian produk atau jasa. Tengok saja, mana yang lebih banyak pasarnya antara produk penambah tenaga dan produk vitamin untuk kesehatan. Bandingkan juga antara kredit sepeda motor dan tabungan pendidikan. Jelas, produk suplemen penambah tenaga lebih menguasai pasar, begitu juga kredit sepeda motor yang lebih mendominasi. “Karena itu, berikan pemahaman kepada konsumen mengenai keuntungan jangka pendek atau cepat. Strateginya, gunakan hadiah langsung atau promo lainnya yang mudah dipahami konsumen,” ujar Handi pada seminar bertajuk 10 Karakter Unik Konsumen Indonesia, di Jakarta, belum lama ini.
Karakter Kedua, umumnya konsumen Indonesia tidak memiliki perencanaan. Karakter ini berhubungan dengan karakter pertama. Konsumen juga kurang menghargai waktu dan memiliki gaya hidup santai. Akibatnya, proses pembelian kurang efisien. Namun, hal ini bisa dimanfaatkan dengan menerapkan strategi produk atau layanan yang mempunyai fleksibilitas tinggi. Artinya, produk itu bisa digunakan alam berbagai situasi multifungsi. Agar cepat tertuju kepada konsumen, gunakan display mencolok.
Karakter Ketiga, konsumen Indonesia suka berkumpul, baik dengan kolega, relasi kerja, dengan keluarga, maupun dengan teman satu komunitas. Karakter ini merupakan bagian dari budaya bangsa Indonesia sejak lama sehingga akan bertahan hingga beberapa puluh tahun ke depan. Dalam kondisi ini, biasanya teman dan kolega bisa memengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian. Cara yang efektif, tingkatkan komunikasi terhadap kelompok atau grup tempat konsumen berkumpul. Bentuklah opini yang dapat memengaruhi kelompok itu. “Konsumen akan membeli atau menggunakan produk jasa jika teman-teman juga membeli. Jadi kelompok dan komunitas itu harus diedukasi,” kata Handi.
Karakter keempat adalah gaptek alias gagap teknologi. Konsumen Indonesia lebih doyan menggunakan teknologi yang sederhana dan tidak rumit. Contohnya, perkembangan teknologi informasi dunia mendorong munculnya telepon seluler dengan beragam fasilitas mulai dari GPRS, 3G hingga teleconference. Namun apa yang terjadi? Masyarakat Indonesia tetap menggandrungi telepon dan pesan singkat (SMS) sebagai cara komunikasi efektif. Pasar yang menggunakan teknologi simpel lebih gemuk dibandingkan dengan pasar yang selalu mengadopsi teknologi tinggi.Cara pemasarannya, buatlah teknologi untuk tujuan fun atau hiburan, serta teknologi yang mudah digunakan dan aman. Dalam kondisi ini, menjadi pengikut kesuksesan produk lain bisa jadi pertimbangan dalam menyusun strategi.
Karakter Kelima, konsumen Indonesia lebih mengutamakan konteks, bukan konten. Konsumen Indonesia bukan masyarakat yang menyukai informasi bersifat analisis data atau perdebatan, melainkan hiburan. Tengok saja acara talk show atau perdebatan konflik politik dibandingkan dengan talk show bertema hiburan seperti Empat Mata-nya Tukul. Peringkat yang paling tinggi tentu acara yang kedua. Masyarakat tidak mau menggunakan banyak otak saat menonton atau baca koran. Masyarakat masih menjadikan televisi sebagai media hiburan, dan bukan informasi. Jadi, strategi pemasaran untuk konsumen ini adalah, membuat produk dengan kemasan dan desain yang menarik atau display yang mencolok, berikan pesan-pesan yang langsung dipahami konsumen.
Karakter keenam, fanatik terhadap produk buatan luar negeri. Rasa nasionalisme bangsa Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan dengan bangsa Korsel atau Jerman yang menghargai produk sendiri.
Masyarakat kurang menghargai produk asli buatan lokal karena kualitasnya sulit bersaing dengan produk asing. Ada beberapa cara untuk mengakali konsumen dengan karakter seperti ini. Pertama,buat produk dengan simbol-simbol asing seperti membubuhkan tulisan made in dalam label produk. “Namun jangan bohongi dan menipu konsumen,” kata Handi. Cara lainnya, membuat produk dengan harga premium, atau beraliansi dengan merek global.
Karakter ketujuh ,yaitu konsumen religius dan suka supranatural. Pasar bank syariah di Indonesia dalam tiga tahun terakhir terus naik signifikan. Pada dasarnya bangsa Indonesia itu manusia yang baik dan tidak suka mengolok-olok sehingga pasar ini tumbuh. Strategi untuk konsumen ini adalah bisa bergabung dengan asosiasi keagamaan, atau memberikan label religi seperti mendaftarkan kehalalan produk. Cara terakhir, meluncurkan produk baru untuk segmen ini, karena potensi pasar religi ke depannya akan terus berkembang.
Karakter kedelapan, adalah pamer dan gengsi, ini berkaitan dengan karakter konsumen yang banyak menyukai produk asing. Kondisi ini didorong oleh masih adanya budaya feodal dan apresiasi berlebihan di tengah masyarakat. Strateginya adalah, ciptakan produk dengan edisi terbatas, atau produk eksklusif. Bisa juga dengan memberikan layanan personal secara khusus.
Karakter kesembilan, adalah kekuatan subkultur atau budaya. Di beberapa daerah pengaruh budaya lokal masih kuat. Cara pemasaran untuk konsumen seperti ini dengan memberikan sentuhan kedaerahan, baik dalam promo produk maupun layanan. Untuk distribusi, bisa juga menggandeng distributor lokal yang lebih memahami karakter daerah setempat.
Karakter kesepuluh yaitu rendahnya kesadaran terhadap lingkungan. Strateginya, posisikan konsep ramah lingkungan hanya pada level perusahaan bukan lebel produk di tingkat konsumen. Terapkan produk ramah lingkungan untuk keperluan ekspor dan pasar luar negeri saja.Namun, karakter ini dalam beberapa tahun ke depan akan berubah seiring dengan maraknya kampanye kesadaran lingkungan dan pemanasan global sehingga harus diantisipasi.
Handi mengatakan beberapa karakter diperkirakan akan terus menguat dalam beberapa tahun ke depan sehingga bisa digunakan perencanaan dengan baik. Karakter yang terus menguat adalah suka berkumpul, suka buatan luar negeri, dan suka religi, serta suka pamer dan gengsi. Karakter yang melemah seiring dengan perkembangan zaman adalah, memori jangka pendek, tidak memiliki perencanaan, gaptek, kedaerahan dan kesadaran lingkungan. (redaksi@bisnis.co.id)
Sumber : bisnis indonesia
5 Cara Meningkatkan Omset dan Keuntungan Bisnis Anda
Berikut ini cara meningkatkan omset dan keuntungan bisnis yang lebih dikenal dengan istilah Five Business Chasis itu:
1. Perbanyak Prospek (Leads). Caranya dengan iklan, buka cabang, sebar brosur, ikut pameran dll. Misalnya, anda buka toko di mal. Rata-rata yang masuk ke toko anda secara tidak sengaja adalah 1000
orang, maka prospek/leads anda adalah 1000. Kemudian anda sebarkan brosur di pintu gerbang mal yang mengundang orang supaya datang ke toko anda. Katakanlah prospek yang yang masuk ke toko dari brosur tersebut adalah 100 orang, jadi prospek anda menjadi 1100. Semakin banyak yang masuk ke toko anda berarti semakin banyak prospek anda.
2. Perbanyak Jumlah Konversi (Conversion). Konversi adalah jumlah prospek yang akhirnya membeli produk anda. Misalnya dari 1000 prospek yang masuk ke toko anda ada 250 orang yang membeli. Artinya konversi anda adalah 25%. Bagaimana cara menaikkan konversi? Contohnya: berikan garansi, berikan jaminan purna jual, delivery gratis, dll.
3. Naikkan Jumlah Transaksi. Jumlah transaksi adalah berapa banyak transaksi yang terjadi di toko anda per hari, per minggu atau per bulan. Bagaimana cara menaikkan jumlah transaksi? Lakukan berbagai cara agar pelanggan anda lebih sering belanja, misalnya dengan memberikan hadiah, bonus, point, voucher dll.
4. Naikkan Jumlah Rata-rata Pembelian. Dari jumlah transaksi tersebut berapa rata-rata transaksinya?Misalnya toko anda memperoleh omset Rp. 1.000.000 per hari dengan jumlah transaksi 50, maka rata- rata transaksi anda adalah Rp. 20.000. Caranya? Anda pernah makan di McDonalds? Setiap kita akan membayar, pelayannya selalu tanya: “Mau tambah french fries pak?” Kalau kita jawab iya, dia akan tanya: “Yang large atau medium?” Kalau kita jawab tidak ingin french fries, dia akan tanya lagi: “Es krimnya mau pak?” atau “Mau coba wafflenya pak?” Begitu seterusnya.
5. Naikkan Margin Keuntungan. Misalnya harga pokok produk anda adalah Rp.750. Anda jual Rp.1000,maka keuntungan anda adalah Rp. 250 atau 25% (Rp. 250 : Rp. 1000). Kemudian anda naikkan harganya Rp. 100 menjadi Rp. 1.100, maka margin keuntungannya menjadi 32% atau naik 7%.
Mari kita lihat angka-angkanya:
Sebelum:
Prospek 1000 x Konversi 25% = 250 Orang Konsumen x 2 Transaksi x Rata-rata Transaksi Rp. 20.000 = Total Omset Rp. 10.000.000 x 25% Margin Keuntungan = Laba Rp. 2.500.000.
Dengan teknik-teknik di atas, kemudian kita berhasil menaikkan 10% saja untuk setiap point Business
Chasis di atas. Mari kita lihat angka sesudahnya.
Sesudah:
Prospek 1100 x Konversi 27,5% = 302 Orang Konsumen x 2,2 Transaksi x Rata-rata Transaksi Rp. 22.000 = Total Omset Rp. 14.616.800 x 27,5% Margin Keuntungan = Laba Rp. 4.019.620.
Jadi, dengan kenaikan 10% saja dari setiap point Business Chasis di atas berhasil menambah laba sebesarRp. 1.519.620 atau 61%!
Sumber : http://roniyuzirman.wordpress.com/2005/11/27/lima-cara-meningkatkan-omset-dan-keuntungan-bisnis-anda/
Tips Mendesign Iklan di Surat Kabar
Iklan koran yang baik selalu menggabungkan antara seni dengan motivasi. Iklan koran yang baik akan menjaga konsumen Anda tertarik untuk membacanya dari elemen satu ke elemen lainnya. Tidak ruwet. Tidak terjadi kemelut antara gambar dengan kalimat. Iklan koran yang hanya tampak bagus outlooknya bukanlah iklan yang baik. Iklan tersebut haruslah 'menjual'.
Berikut adalah tips agar konsumen Anda 'tanggap' terhadap pesan penjualan Anda dari awal baris sampai akhir baris iklan:
1. Hendaknya ketika Anda memutuskan untuk memasukkan iklan di koran, Anda memasangnya di sebelah kanan halaman. Secara psikologi, mata pembaca selalu melihat halaman sebelah kanan ketimbang kiri. Dengan memasangnya di sebelah kanan, Anda punya probabilitas yang lebih tinggi konsumen Anda akan membaca iklan Anda tersebut.
2. Taruhlah headline di mana konsumen Anda akan melihatnya terlebih dahulu. Biasanya ada di atas halaman iklan atau di sebelah kanan bawah gambar iklan/ilustrasi.
3. Paragrah pertama dari iklan tersebut haruslah pendek, tidak lebih dari 15 kata. Jika memasukkan lebih 15 kata, kemungkinan besar si konsumen akan segera beralih ke iklan lainnya.
4. Kalau Anda hendak memasukkan iklan yang sifatnya panjang karena informasi-informasi penting yang terkandung di dalamnya, gunakanlah poin-poin untuk membagi tiap-tiap paragraf dan tentu saja menambah ketertarikan si konsumen untuk membaca iklan Anda.
5. Untuk iklan yang bersifat panjang, masukkanlah ilustrasi/gambar.
6. Setiap empat atau lima paragraf, hendaknya Anda menggunakan sub headline untuk menambah interest pembaca. Terkadang, pembaca malas membaca iklan yang panjang-panjang dan cenderung melihat headline saja dan sub headline. Jadi maksimalkanlah judul headline dan sub headline tersebut untuk memaparkan pesan-pesan penjualan Anda.
7. Design dari iklan Anda seharusnya memiliki kotak yang memanjang alih-alih melebar sebagaimana iklan-iklan di koran.
8. Jangan pernah membuat iklan dengan background hitam dan tulisan putih. Konsumen Anda akan sulit membacanya dan cenderung mengacuhkan iklan semacam itu.
9. Gunakanlah huruf kecil seperti yang terdapat di koran atau majalah. KARENA HURUF KAPITAL LEBIH SULIT UNTUK DIBACA!
10. Kalau Anda menggunakan kupon dan semacamnya dimana Anda meminta konsumen Anda untuk membawa kupon iklan tersebut untuk mendapatkan special offer atau discount, hendaknya Anda menaruhnya di tengah iklan Anda untuk memperbesar peluangnya.
Berikut adalah tips agar konsumen Anda 'tanggap' terhadap pesan penjualan Anda dari awal baris sampai akhir baris iklan:
1. Hendaknya ketika Anda memutuskan untuk memasukkan iklan di koran, Anda memasangnya di sebelah kanan halaman. Secara psikologi, mata pembaca selalu melihat halaman sebelah kanan ketimbang kiri. Dengan memasangnya di sebelah kanan, Anda punya probabilitas yang lebih tinggi konsumen Anda akan membaca iklan Anda tersebut.
2. Taruhlah headline di mana konsumen Anda akan melihatnya terlebih dahulu. Biasanya ada di atas halaman iklan atau di sebelah kanan bawah gambar iklan/ilustrasi.
3. Paragrah pertama dari iklan tersebut haruslah pendek, tidak lebih dari 15 kata. Jika memasukkan lebih 15 kata, kemungkinan besar si konsumen akan segera beralih ke iklan lainnya.
4. Kalau Anda hendak memasukkan iklan yang sifatnya panjang karena informasi-informasi penting yang terkandung di dalamnya, gunakanlah poin-poin untuk membagi tiap-tiap paragraf dan tentu saja menambah ketertarikan si konsumen untuk membaca iklan Anda.
5. Untuk iklan yang bersifat panjang, masukkanlah ilustrasi/gambar.
6. Setiap empat atau lima paragraf, hendaknya Anda menggunakan sub headline untuk menambah interest pembaca. Terkadang, pembaca malas membaca iklan yang panjang-panjang dan cenderung melihat headline saja dan sub headline. Jadi maksimalkanlah judul headline dan sub headline tersebut untuk memaparkan pesan-pesan penjualan Anda.
7. Design dari iklan Anda seharusnya memiliki kotak yang memanjang alih-alih melebar sebagaimana iklan-iklan di koran.
8. Jangan pernah membuat iklan dengan background hitam dan tulisan putih. Konsumen Anda akan sulit membacanya dan cenderung mengacuhkan iklan semacam itu.
9. Gunakanlah huruf kecil seperti yang terdapat di koran atau majalah. KARENA HURUF KAPITAL LEBIH SULIT UNTUK DIBACA!
10. Kalau Anda menggunakan kupon dan semacamnya dimana Anda meminta konsumen Anda untuk membawa kupon iklan tersebut untuk mendapatkan special offer atau discount, hendaknya Anda menaruhnya di tengah iklan Anda untuk memperbesar peluangnya.
Mengapa Terjadi Penolakan ?
Coba Anda bayangkan, ketika mendekati seseorang yang Anda taksir dan mengungkapkan maukah kamu jadi pacarku? Atau “Maukah kau menikah denganku?”. Apa yang akan terjadi jika Anda mengungkapkannya pada beberapa orang dan tidak ada seorang pun yang menolak? Apa kata dunia???
Atau coba juga anda bayangkan bila setiap kali menawarkan sebuah produk, sang prospek mendengarkan penjelasan anda dengan antusias dan dia berkata “OK, berapa harganya? dan ketika Anda menyebut suatu angka , sang prospek dengan entengnya menjawab “Okey, saya beli”,
Kalau itu yang selalu terjadi, wah , orang akan berduyun duyun untuk menjadi penjual karena pekerjaan sebagai penjual akan menjadi paling menyenangkan yang menjamin keuangan dan kesejahteraan tanpa halangan apapun
Jadi sebenarnya, jangan pernah menganggap penolakan sebagai suatu hal yang aneh, hal yang menakutkan., atau bahkan menganggap bahwa penolakan sama dengan kegagalan.
Apa Penyebabnya ?
Tidak percaya.
Dasar sebuah penerimaan adalah kepercayaan. Tanpa adanya kepercayaan, tak akan ada hubungan bisnis, apalagi penerimaan. Jadi, penolakan paling sering terjadi karena ketidakpercayaan terhadap ide yang kita sampaikan , barang, ataupun jasa yang ditawarkan atau bisa juga pada orang yang menawarkannya. Ketidakpercayaan ini bisa saja terjadi karena ketidaktahuan, informasi yang kurang, informasi yang salah, ataupun pengalaman buruk yang menciptakan citra buruk yang menghapuskan rasa percaya. Misalnya: Beberapa penjual dari berbagai perusahaan komputer menawarkan dagangan mereka kepada bapak Rudi yang sedang mencari komputer. Karena bapak Rudi pernah punya pengalaman buruk dengan perusahaan A ( after sales service yang buruk), maka tawaran dari perusahaan A ditolak. Perusahaan B yang menawarkannya juga ditolak karena pak Rudi merasa belum pernah kenal dengan perusahaan ini, sehingga ia tidak mau mengambil risiko berhubungan bisnis dengan perusahaan yang reputasinya belum ia kenal., atau bisa juga dia tidak percaya dengan penjelasan yang disampaikan si penjual
Tidak melihat manfaat atau nilai tambah.
Orang “membeli” barang, jasa maupun ide bila ia merasakan ada manfaat nya atau bisa memberi nilai tambah. Penolakan bisa terjadi bila prospek tidak melihat adanya manfaat ataupun tidak memberikan solusi atas kebutuhannya.
Misalnya: Rina dan Dian sebagai sales di bidang property menjual rumah dengan tipe, luas bangunan, dan lokasi yang sama persi kepada Bapak Togar
Rina secara detail menginformaikan kepada Bapak Togar spesifikasi teknis rumah yang dijualnya, seperti luas bangunan, jumlah kamar, listrik dan hal lainnya yang bersifat teknis.
Sementara Dian , berusaha menggali apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh bapak Togar, baru dia menginformasikan berbagai manfaat rumah yang dijualnya kepada Bapak Togar , misalnya: lingkungan yang aman, pepohonan yang rindang, fasilitas keamanan 24 jam, dan lokasi yang dekat dengan berbagai fasilitas umum (Rumah ibadah, sekolah, pasar dan rumah sakit). Sudah bisa ditebak, rumah yang dijual oleh Dian lah yang akhirnya dibeli oleh Pak Togar, karena Dian tidak sekedar menjual “rumah” tetapi ia menjual “rasa aman, nyaman, lokasi strategis dan perlindungan dari resiko kerugian.
”Jadi, jangan jual produk atau jasanya secara teknis, tetapi terlebih utama jualah manfaatnya, karena orang bukan membeli barang atau jasa, tetapi menikmati manfaat dan nilai tambah dari barang dan jasa tersebut.
Harga
Jika “harga” terlihat terlalu “mahal” atau berada di luar kemampuan bayar “pembeli”, maka cenderung barang, jasa atau ide yang ditawarkan akan ditolak.
Sebenarnya “Mahal” atau “Murah” itu sangat relatif terhadap manfaat yang bisa dinikmati. Jika kita bisa meyakinkan bahwa manfaat yang ditawarkan jauh melebihi harga yang harus dibayar maka kemungkinan besar apa yang kita tawarkan akan diterima. Misalnya: sebuah printer berwarna seharga Rp 2 juta yang tadinya terlihat mahal akan terlihat relatif jauh lebih murah ketika manfaat lainnya sebagai scanner, dan mesin fax yang portable juga ditunjukkan (Beli satu printer dapat tiga manfaat). Jadi, daripada harus membeli tiga unit (printer, fax, dan scanner) dengan harga yang jauh lebih mahal, lebih baik beli satu printer dengan tiga manfaat.
Harga tidak akan menjadi penghalang, bila produk / jasa kita , memiliki nilai tambah dibanding pesaing ,
Penolakan tidak bisa dihindari, namun kita bisa memperkecil kemungkinan terjadinya penolakan.
Jangan pernah takut dengan penolakan, karena setiap penolakan yang kita terima, berarti kesempatan bagi kita untuk belajar belajar dan belajar lagi menjadi yang lebih baik
sumber : http://tipsntrikpenjualan.blogspot.com/2009/10/mengapa-terjadi-penolakan.html
Atau coba juga anda bayangkan bila setiap kali menawarkan sebuah produk, sang prospek mendengarkan penjelasan anda dengan antusias dan dia berkata “OK, berapa harganya? dan ketika Anda menyebut suatu angka , sang prospek dengan entengnya menjawab “Okey, saya beli”,
Kalau itu yang selalu terjadi, wah , orang akan berduyun duyun untuk menjadi penjual karena pekerjaan sebagai penjual akan menjadi paling menyenangkan yang menjamin keuangan dan kesejahteraan tanpa halangan apapun
Jadi sebenarnya, jangan pernah menganggap penolakan sebagai suatu hal yang aneh, hal yang menakutkan., atau bahkan menganggap bahwa penolakan sama dengan kegagalan.
Apa Penyebabnya ?
Tidak percaya.
Dasar sebuah penerimaan adalah kepercayaan. Tanpa adanya kepercayaan, tak akan ada hubungan bisnis, apalagi penerimaan. Jadi, penolakan paling sering terjadi karena ketidakpercayaan terhadap ide yang kita sampaikan , barang, ataupun jasa yang ditawarkan atau bisa juga pada orang yang menawarkannya. Ketidakpercayaan ini bisa saja terjadi karena ketidaktahuan, informasi yang kurang, informasi yang salah, ataupun pengalaman buruk yang menciptakan citra buruk yang menghapuskan rasa percaya. Misalnya: Beberapa penjual dari berbagai perusahaan komputer menawarkan dagangan mereka kepada bapak Rudi yang sedang mencari komputer. Karena bapak Rudi pernah punya pengalaman buruk dengan perusahaan A ( after sales service yang buruk), maka tawaran dari perusahaan A ditolak. Perusahaan B yang menawarkannya juga ditolak karena pak Rudi merasa belum pernah kenal dengan perusahaan ini, sehingga ia tidak mau mengambil risiko berhubungan bisnis dengan perusahaan yang reputasinya belum ia kenal., atau bisa juga dia tidak percaya dengan penjelasan yang disampaikan si penjual
Tidak melihat manfaat atau nilai tambah.
Orang “membeli” barang, jasa maupun ide bila ia merasakan ada manfaat nya atau bisa memberi nilai tambah. Penolakan bisa terjadi bila prospek tidak melihat adanya manfaat ataupun tidak memberikan solusi atas kebutuhannya.
Misalnya: Rina dan Dian sebagai sales di bidang property menjual rumah dengan tipe, luas bangunan, dan lokasi yang sama persi kepada Bapak Togar
Rina secara detail menginformaikan kepada Bapak Togar spesifikasi teknis rumah yang dijualnya, seperti luas bangunan, jumlah kamar, listrik dan hal lainnya yang bersifat teknis.
Sementara Dian , berusaha menggali apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh bapak Togar, baru dia menginformasikan berbagai manfaat rumah yang dijualnya kepada Bapak Togar , misalnya: lingkungan yang aman, pepohonan yang rindang, fasilitas keamanan 24 jam, dan lokasi yang dekat dengan berbagai fasilitas umum (Rumah ibadah, sekolah, pasar dan rumah sakit). Sudah bisa ditebak, rumah yang dijual oleh Dian lah yang akhirnya dibeli oleh Pak Togar, karena Dian tidak sekedar menjual “rumah” tetapi ia menjual “rasa aman, nyaman, lokasi strategis dan perlindungan dari resiko kerugian.
”Jadi, jangan jual produk atau jasanya secara teknis, tetapi terlebih utama jualah manfaatnya, karena orang bukan membeli barang atau jasa, tetapi menikmati manfaat dan nilai tambah dari barang dan jasa tersebut.
Harga
Jika “harga” terlihat terlalu “mahal” atau berada di luar kemampuan bayar “pembeli”, maka cenderung barang, jasa atau ide yang ditawarkan akan ditolak.
Sebenarnya “Mahal” atau “Murah” itu sangat relatif terhadap manfaat yang bisa dinikmati. Jika kita bisa meyakinkan bahwa manfaat yang ditawarkan jauh melebihi harga yang harus dibayar maka kemungkinan besar apa yang kita tawarkan akan diterima. Misalnya: sebuah printer berwarna seharga Rp 2 juta yang tadinya terlihat mahal akan terlihat relatif jauh lebih murah ketika manfaat lainnya sebagai scanner, dan mesin fax yang portable juga ditunjukkan (Beli satu printer dapat tiga manfaat). Jadi, daripada harus membeli tiga unit (printer, fax, dan scanner) dengan harga yang jauh lebih mahal, lebih baik beli satu printer dengan tiga manfaat.
Harga tidak akan menjadi penghalang, bila produk / jasa kita , memiliki nilai tambah dibanding pesaing ,
Penolakan tidak bisa dihindari, namun kita bisa memperkecil kemungkinan terjadinya penolakan.
Jangan pernah takut dengan penolakan, karena setiap penolakan yang kita terima, berarti kesempatan bagi kita untuk belajar belajar dan belajar lagi menjadi yang lebih baik
sumber : http://tipsntrikpenjualan.blogspot.com/2009/10/mengapa-terjadi-penolakan.html
Strategi Menjual Saat Krisis
Di saat perekonomian sedang dalam keadaan sulit, memang merupakan suatu hal yang tidak mudah untuk dapat memasarkan dan menjual suatu produk kepada orang lain. Selain itu, kendala berupa rasa kuatir akan keadaan perekonomian membuat kita menjadi ragu-ragu untuk memasarkan dan menjual produk kita di saat perekonomian sedang sulit. Menurut John Chapin, yang merupakan seorang sales trainer dan co-author of "Sales Encyclopedia," ada 7 strategi dalam memasarkan produk di saat perekonomian sedang mengalami kesulitan :
Jangan masalah perekonomian menjadi alasan untuk tidak memasarkan produk
Perekonomian yang sulit memang sering dijadikan alasan ketika kita mengalami kesulitan dalam memasarkan produk. Tetapi ketika kita melakukan hal tersebut, justru penjualan kita malah menjadi rendah. Cara terbaik yang perlu kita lakukan adalah memanfaatkan situasi perekonomian yang sulit bukan sebagai alasan untuk mundur, tetapi jadikan hal ini sebagai peringatan dan motivasi untuk bekerja dengan lebih keras dan juga memaksimalkan kepandaian yang ada. Ketika kita mundur, bisnis akan menurun, tetapi ketika kita bekerja lebih keras dan memaksimalkan kepandaian, maka bisnis akan berkembang. Seperti yang dikatakan "di saat segala sesuatu menjadi semakin semakin sukar, maka yang kuat atau tahan banting akan tetap berjalan".
Tingkatkan keahlian dalam penjualan
Ketika kesempatan dan prospek penjualan menjadi semakin kecil, kita harus berjuang dengan sebaik yang kita bisa. Hal ini berguna agar kita sangggup menjadi yang terbaik dalam penjualan kita. Dengan membaca buku, mendengarkan rekaman kaset dan CD, menonton DVD, akan membuat kita menjadi seperti spons yang akan menyerap semuanya. Strategi ini dapat menolong banyak salesperson untuk mengembangkan kemampuan yang ada. Seringkali kondisi seperti ini melahirkan ide-ide cara pemasaran yang baru.
Pertahankan perilaku positif
Perilaku atau sikap yang positif merupakan salah satu senjata penting dalam memasarkan produk. Hal yang harus dilakukan adalah memasukkan banyak ide bagus di dalam pikiran. Ambillah semua hal yang bersifat inspiratif, memberikan motivasi, positif, dan memberikan kesenangan. Gunakan semua hal tersebut sebagai pendorong untuk tetap mempertahankan tingkah laku yang baik dan tetap fokus pada tujuan.
Fokuskan kepada harga dan nilai produk
Pada keadaan ekonomi yang sulit seperti saat ini, orang lebih banyak memfokuskan diri pada harga dibandingkan faktor lain. Banyak orang mencari barang dengan harga termurah. Dengan melihat akan hal ini, maka kita harus lebih menonjolkan nilai lebih yang dimiliki oleh produk kita. Semakin anda mampu mendiskripsikan dengan baik benefit yang dimiliki, dan dikemas dengan strategi harga seperti diskon misalnya, maka anda masih ada peluang untuk meningkatkan penjualan.
Membangun hubungan yang baik
Hubungan baik dengan salesperson merupakan salah satu alasan mengapa konsumen mau melakukan hubungan bisnis dengan perusahaan. Dalam beberapa kasus, hubungan yang baik merupakan hal yang sangat penting, jadi kita perlu fokus untuk bukan hanya sekedar mengenal dan melakukan prospek kepada konsumen tetapi harus lebih diarahkan kepada membangun hubungan yang baik dengan konsumen.
Go back to the basic
Tingkatkan komunikasi tatap muka dengan konsumen dengan cara mengirim ucapan-ucapan selamat, up date info terbaru perusahaan, seringlah menyapa mereka jika bertemu, dan terus mengirim proposal. Hal yang harus diperhatikan adalahbagaimana meningkatkan hubungan dengan konsumen secara lebih personal , ketika kompetitor telah semakin menurun intensitas hubungannya dengan konsumen.
Ingat, Anda benar-benar bertanggung jawab kepada penjualan Anda
Jika kita telah memutuskan bahwa segala hal yang di luar diri sendiri, termasuk kondisi perekonomian akan mempengaruhi kesuksesan dan kegagalan anda, maka kita sendiri yang harus mengatur diri kita agar mencapai keberhasilan. Caranya ialah dengan mengingat bahwa kesuksesan sangat bergantung pada diri kita, kita memiliki semua ini, dan mengontrol diri kita. Asalkan kita memiliki alasan yang kuat untuk sampai kepada tujuan, kita pasti akan sampai ke tujuan yang kita inginkan, tidak perduli akan keadaan ekonomi atau apapun.
sumber : Vibizmanagement - Sales & Marketing
(Disadur dari John Chapin. The American Salesman. Burlington: May 2009. Vol. 54, Iss. 5; pg. 3, 4 pgs).
Kiat Membangun Brand di Masa Kini
Kiat Membangun Brand Yang Kuat Ala Hermawan Kartajaya
Hermawan Kartajaya kembali membagi ide segar seputar dunia marketing. Inspirasi dari suhu marketing modern Philip Kotler itu dibagikan kepada peserta seminar MarkPlus di Surabaya, Senin (17/9) malam:
“Adakah perusahaan, yang ketika dia tutup dan produknya sudah tidak keluar, konsumen akan sedih?” pancing Hermawan Kartajaya memancing antusiasme peserta seminar.
Susah kan menyebutkan produk tersebut? Jika Anda menemukan jawaban atas pancingan Hermawan tadi, pastilah produk tersebut memiliki brand (merek) yang sangat kuat. Menciptakannya, tentu saja tidak cukup hanya dengan beriklan. Baik itu di media cetak (printing ad), iklan luar ruang (outdoor), maupun iklan-iklan model baru.
Hermawan yang juga founder dan President MarkPlus itu mengatakan untuk membangun brand yang kuat perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan iklan. Perusahaan harus melakukan sesuatu yang mengena di benak konsumen, tidak sekadar menjual tetapi memiliki implikasi jangka panjang.
Menurut Asian Marketing Guru itu, perusahaan yang memiliki reputasi bagus tidak lagi memerlukan promosi, marketing, public relation, atau corporate social responsibility (CSR) karena hal itu telah terjadi dengan sendirinya.
“Cara baru membangun brand adalah dengan membentuk bisnis yang dicintai oleh karyawan perusahaan, masyarakat, dan investor,” ungkapnya.
Menurut Hermawan hal tersebut terkait reputasi. Bagi customer, reputasi yang baik akan menentukan keputusan membeli. Bagi karyawan perusahaan, nama baik akan memicu mereka untuk loyal dan berkomitmen. Reputasi juga bisa mengundang investor untuk menanamkan modalnya. Selain itu, nama baik juga akan menarik media untuk terus mengikuti perkembangan.
“Reputasi yang baik akan mendorong analis keuangan memberikan peringkat yang tinggi,” ujarnya.
Beberapa brand yang mampu meraih itu semua adalah The Body Shop dan produk Apple seperti IPod dan ITunes. The Body Shop, merek produk perawatan tubuh itu dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan sehingga bisa mengambil simpati konsumen di seluruh dunia. Selain itu, Anita Roddick, pencipta merek tersebut, dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup dan bisnisnya juga sangat concern terhadap perekonomian dunia ketiga.
Sedangkan produk-produk Apple dikenal memiliki reputasi tersendiri dibanding produk elektronik sejenis. Bahkan saat ini, perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs itu telah menjual jutaan keping produknya dan menciptakan konsumen yang loyal.
Dalam membangun brand yang kuat, kata Hermawan, harus dimulai dengan menyinergikan pikiran, hati, dan jiwa, yang lantas diimplikasikan kepada model bisnis dengan menciptakan misi, visi, dan nilai. Misinya, perusahaan bisa memberi manfaat kepada manusia dan lingkungan. Visinya, perusahaan bisa menjadi yang terdepan dalam menciptakan inovasi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan nilainya adalah menciptakan nilai keekonomian, lingkungan yang sehat, dan mendukung perkembangan sosial.
Menurutnya, perusahaan perlu melakukan usaha-usaha untuk mempertahankan diri bagi orang-orang yang mencintai perusahaan. “Akhirnya, perusahaan akan mampu menciptakan brand-nya akan mempunyai brand integrity, brand identity, dan brand image,” katanya.
Hermawan Kartajaya kembali membagi ide segar seputar dunia marketing. Inspirasi dari suhu marketing modern Philip Kotler itu dibagikan kepada peserta seminar MarkPlus di Surabaya, Senin (17/9) malam:
“Adakah perusahaan, yang ketika dia tutup dan produknya sudah tidak keluar, konsumen akan sedih?” pancing Hermawan Kartajaya memancing antusiasme peserta seminar.
Susah kan menyebutkan produk tersebut? Jika Anda menemukan jawaban atas pancingan Hermawan tadi, pastilah produk tersebut memiliki brand (merek) yang sangat kuat. Menciptakannya, tentu saja tidak cukup hanya dengan beriklan. Baik itu di media cetak (printing ad), iklan luar ruang (outdoor), maupun iklan-iklan model baru.
Hermawan yang juga founder dan President MarkPlus itu mengatakan untuk membangun brand yang kuat perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan iklan. Perusahaan harus melakukan sesuatu yang mengena di benak konsumen, tidak sekadar menjual tetapi memiliki implikasi jangka panjang.
Menurut Asian Marketing Guru itu, perusahaan yang memiliki reputasi bagus tidak lagi memerlukan promosi, marketing, public relation, atau corporate social responsibility (CSR) karena hal itu telah terjadi dengan sendirinya.
“Cara baru membangun brand adalah dengan membentuk bisnis yang dicintai oleh karyawan perusahaan, masyarakat, dan investor,” ungkapnya.
Menurut Hermawan hal tersebut terkait reputasi. Bagi customer, reputasi yang baik akan menentukan keputusan membeli. Bagi karyawan perusahaan, nama baik akan memicu mereka untuk loyal dan berkomitmen. Reputasi juga bisa mengundang investor untuk menanamkan modalnya. Selain itu, nama baik juga akan menarik media untuk terus mengikuti perkembangan.
“Reputasi yang baik akan mendorong analis keuangan memberikan peringkat yang tinggi,” ujarnya.
Beberapa brand yang mampu meraih itu semua adalah The Body Shop dan produk Apple seperti IPod dan ITunes. The Body Shop, merek produk perawatan tubuh itu dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan sehingga bisa mengambil simpati konsumen di seluruh dunia. Selain itu, Anita Roddick, pencipta merek tersebut, dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup dan bisnisnya juga sangat concern terhadap perekonomian dunia ketiga.
Sedangkan produk-produk Apple dikenal memiliki reputasi tersendiri dibanding produk elektronik sejenis. Bahkan saat ini, perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs itu telah menjual jutaan keping produknya dan menciptakan konsumen yang loyal.
Dalam membangun brand yang kuat, kata Hermawan, harus dimulai dengan menyinergikan pikiran, hati, dan jiwa, yang lantas diimplikasikan kepada model bisnis dengan menciptakan misi, visi, dan nilai. Misinya, perusahaan bisa memberi manfaat kepada manusia dan lingkungan. Visinya, perusahaan bisa menjadi yang terdepan dalam menciptakan inovasi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan nilainya adalah menciptakan nilai keekonomian, lingkungan yang sehat, dan mendukung perkembangan sosial.
Menurutnya, perusahaan perlu melakukan usaha-usaha untuk mempertahankan diri bagi orang-orang yang mencintai perusahaan. “Akhirnya, perusahaan akan mampu menciptakan brand-nya akan mempunyai brand integrity, brand identity, dan brand image,” katanya.
The Six Secret to Success Selling
Secret number One is FOCUS
Untuk menjadi seorang sales yang sukses, dibangun dari Dreams, Goals dan Plan
3 pertanyaan mendasar yang harus mampu kita jawab
Apa yang ingin kita capai ? Mengapa kita menginginkannya ? Bagaimana cara mencapainya
Fokuslah kepada tujuan dan rencanakan sukses yang ingin dicapai
Secret number Two : PRIDEKunci keberhasilan kedua dalam menjual adalah memiliki rasa BANGGA. Bangga pada diri ,Bangga pada Produk yang dijual, Bangga kepada perusahaan tempat kita bekerja , Sales yang tidak memiliki rasa BANGGA , dia menutup sendiri PINTU KEBERHASILANNYA
Secret number Three : SELLING SKILLSMenjual bukan hanya sekedar TELL n SELL your Product.
Ketrampilan menjual ( Selling Skills ) adalah senjata kita untuk memenangkan penjualan.Bagaimana mendapatkan prospek yang tepat, bagaimana membangun hubungan , bagaimana mengetahui KEBUTUHAN calon pembeli, bagaimana memberikan Solusi yang tepat , bagaimana mempresentasikan penjualan, melakukan penutupan penjualan, serta membina hubungan jangka panjang dengan pembeli. Kesemua langkah tersebut membutuhkan penguasaan SELLING SKILLS yang baik.
Secret number Four : ACTIVITYMemiliki ketrampilan menjual tanpa kemauan melakukan aktivitas penjualan ?
Tidak ada kesuksesan yang datang dengan sendirinya, tidak ada hasil yang luar biasa tanpa aktivitas yang kita lakukan. Goals dan Planning hanya akan menjadi angan angan tanpa aktivitas penjualan. Dengan aktivitas, kemampuan dan ketrampilan kita dalam menjual semakin hari akan semakin terasah, lebih jeli membidik pasar yang tepat, Skill level kita akan semakin meningkat, so pasti Closing ratio pasti meningkat.
Secret number Five : ENTHUSIASMAntusiasme, ibarat bahan bakar menjalankan sebuah kendaraan. Antusiasme adalah bahan bakar menuju sukses penjualan.
Antusiasme lah yang mampu mendorong, menjalankan segala kegiatan penjualan kita menuju GOALS / tujuan yang telah kita tetapkan. Tanpa semangat, jangankan mampu berlari mengejar impian dan tujuan kita, jalanpun terasa berat
Secret number Six : COMMITMENTKomitmen adalah rambu rambu menuju kesuksesan menjual. Komitmen pada diri sendiri, pada perusahaan juga pada pelanggan.
Komitmen pada diri sendiri akan mampu mengarahkan kita tetap pada tujuan awal , sekalipun ditengah perjalanan menuju sukses, banyak rintangan yang menghalangi perjalanan sukses, kita akan tetap mengarah pada tujuan awal
Komitment pada perusahan akan membawa kita pada loyalitas dan integritas kerja.
Komitment pada pelanggan, akan menumbuhkan dan membangun trust calon pembeli kepada kita, kepada produk dan kepada perusahaan .
sumber : http://tipsntrikpenjualan.blogspot.com/2009/10/six-secret-to-success-selling.html
Pemikiran Tentang Suatu Bisnis
Dalam dunia bisnis, kita tidak dapat mengabaikan sebuah komoditas yang sangat menakjubkan bernama “senyum” atau “smile”. Dengan itu, kita dapat membuka pasar baru, Dengan kata yang sama, kita dapat menyelesaikan transaksi dengan sukses. Dengannya juga, kita bahkan dapat mengatasi berbagai konflik yang bakal terjadi dalam suatu business relationship.
Saat anda tersenyum sedikitnya kita mengantongi lima keuntungan, yaitu pertama, membuat harapan hidup Anda lebih panjang; kedua, risiko untuk mengalami penuaan secara dini menjadi lebih kecil; ketiga, menurunkan tingkat stress; keempat, kemungkinan mengidap penyakit hipertensi menjadi lebih kecil; kelima, risiko terkena stroke jauh lebih kecil.
Seorang pebisnis bukanlah nasabah bank yang sekadar menitipkan uang untuk memperoleh bunga keuntungan bank. Seorang pebisnis akan berusaha untuk mengembangbiakkan asetnya. Aset dalam hal ini bukanlah bangunan, fasilitas atau uang. Aset yang dimaksud disini adalah “sesuatu” yang berlipat ganda nilainya jika dikembangbiakkan. Hal tersebut adalah :
PERTAMA, ide kreatif yang kemunculannya terkadang dipicu ole hide-ide liar atau gila yang melawan mainstream market.
KEDUA, pengalaman. Perlu kita ketahui pengalaman ini bersifat expandable. Sempit dan luasnya sangat bergantung seberapa banyak jam terbang yang Anda miliki.
KETIGA, brand image.Siapa pun yang pertama mampu menancapkan citra merek dengan tajam, maka ia akan menjadi business leader.
Rahasia kesuksesan dalam bisnis atau hidup bukan ditentukan oleh semata-mata penampilan, latar belakang keluarga atau pendidikan, akan tetapi oleh ATTITUDE. Attitude adalah kemampuan seseorang untuk memosisikan dirinya pada tempat yang tepat serta waktu yang tepat pula. The right person on the right place and time.
Ada lima posisi yang sangat tidak menguntungkan kita sehingga perlu dilakukan repositioning, yaitu :
PERTAMA, Anda selama ini baru bisa menjadi pengekor (follower). Oleh karena itu Anda dituntut untuk berubah menjadi pelopor (pioneer).
KEDUA, berpindah posisi dari posisi penonton menjadi penuntun. Ketika kita puas hanya dengan menonton maka artinya kita kurang berani mengambil sebuah risiko.
KETIGA, mengubah mental pengamat menjadi mental pengamal.
Untuk menjadikan kita berhasil bukan berarti kita menjadi orang yang anti gagal atau selalu berhasil. Yang terpenting bukan soal kapan Anda berhasil dan kapan Anda gagal. Mengapa? Karena roda bisnis akan selalu berputar seiring dengan pergantian waktu. Artinya, tidak akan pernah ada orang yang berhasil secara abadi atau gagal terus menerus. Jadi, yang terpenting adalah bagaimana harus bersikap kala kita berhasil dan saat kita gagal. Untuk itu kita bisa menggunakan satu ungkapan klasik say no to fail yang dapat memberikan efek pada tiga aspek, yaitu :
PERTAMA, saat Anda memulai bisnis, jangan pernah merasa gagal sebelum Anda melakukan aktivitas bisnis apa pun.
KEDUA, dalam menjalankan sebuah proses berlaku aturan bahwa kemungkinan berhasil sangat kecil, tetaplah berjuang keras sampai detik terakhir.
KETIGA, saat Anda mengakhiri suatu business deal dengan siapa pun, Jalanlah terus dan jangan menyerah. Tidak ada yang tahu rumus berhasil kecuali Tuhan.
Sumber : internet
Lifestyle Marketing ke Dalam Produk Anda
Pada abad ke-21, terminology ‘Lifestyle Marketing’ telah menjadi kata yang luar biasa hebat serta strategi pemasaran terkini untuk memikat calon pelanggan, tentu saja setelah era ‘Niche Marketing’ di tahun 80 an dan ‘Branding’ di tahun 90 an. Singkat nya, Lifestyle Marketing merupakan suatu strategi pemasaran yang berorientasikan pada ketertarikan, nilai, perilaku, dan cara hidup dari pelanggan atau kelompok pelanggan tertentu. Kata kuncinya di sini adalah ‘cara hidup’ dari calon pelanggan.
Seorang pakar pemasaran yang menganut Lifestyle Marketing mengkategorikan calon pelanggan ke dalam ketertarikan mereka terhadap suatu hal, aktivitas mereka, dan pendapat atau cara pandang mereka mengenai suatu hal. Contoh klasik dari Lifestyle Marketing adalah motor HARLEY-DAVIDSON yang menginsipirasikan seseorang untuk hidup bak orang bebas. Atau mungkin PONDS yang menginspirasikan wanita ASIA untuk tampil putih memukau.
Lifestyle Marketing berfokus pada kelompok pelanggan berdasarkan percampuran antara 3 variable, yakni Activities, Interests, and Opinions (AIO) dan mengidentifikasi gaya hidup dari para pelanggan tersebut untuk menentukan macam produk dan pilihan brand yang sesuai dengan segmen gaya hidup mereka. Lifestyle Marketing memegang peranan yang penting dalam persaingan bisnis saat ini.
Lifestyle Marketing sangat ampuh apabila sebuah perusahaan mampu mengkoneksikan produk mereka dengan gaya hidup dari si calon pelanggan dengan cara mengembangkan seperangkat strategi pemasaran yang efektif dan sesuai dengan gaya hidup mereka. Strategi pemasaran tersebut menghasilkan berbagai macam peluang bagi perusahaan untuk mentargetkan dan memetakan pelanggan yang kemungkinan besar akan menjadi fanatik dan setia (loyal) pada produk tertentu dari perusahaan sehingga bisa menciptakan competitive advantage dan menghasilkan lebih banyak usaha.
Sebuah perusahaan harus mengerti bahwa memahami calon pelanggan dan merefleksikan AIO mereka ke dalam produk-produk perusahaan tersebut adalah kunci sukses pemasaran.
Dengan dasar pemikiran tersebut, sebuah perusahaan hendaknya mampu mengalokasikan sebagian dari sumber daya pemasaran mereka ke arah Lifestyle Marketing.
Sumber : kaskus
3 Prinsip Pokok Pengembangan Bisnis
Dalam dunia bisnis seringkali kita harus melakukan terobosan-terobosan untuk mengembangkan bisnis Anda, berikut tiga prinsip pokok yang dapat digunakan sebagai landasan.
PERTAMA, Ubah mentalitas “SUPERMAN” Anda menjadi “SUPERTEAM” mulai saat ini. Pasalnya, sehebat apa pun superioritas seseorang, tetap saja yang namanya kekurangan, keterbatasan dan kelemahan masih melekat pada diri seseorang.
KEDUA, gantilah pola hubungan antarbisnis dari pendekatan COMPETITION menjadi “CO-OPETITION”. Memosisikan para competitor sebagai musuh Anda berarti semakin menumpukan daya kreativitas dan inovasi Anda. Disamping itu, dengan cara seperti itu, Anda sudah mempersempit ruang peluang usaha dan pengembangan jaringan pemasaran. Prinsip CO-OPETITION adalah konsep yang mengawinkan antara dua kata kata yaitu KOMPETISI dan KOOPERASI. Artinya, bagaimana cara kita bersaing dalam kerjasama dan dan kerjasama dalam persaingan.
KETIGA, mulailah bersentuhan dengan e-business. Tidak bisa dimungkiri bahwa perkembangan dunia IT begitu luar biasa khusunya internet. Dengan satu klik saja, Anda dapat menciptakan jaringan distribusi dan pemasaran di seluruh dunia.
Dalam menjalankan bisnis perlu dilandasi adanya kerjasa ( superteam ) sehingga membentuk super companya yang solid. Unsur ini menuntut terciptanya hubungan yang interdependence ( saling ketergantungan ), interaction ( saling memberikan tanggapan ), interconnection ( saling berhubungan ) dan interfunction ( saling mendukung fungsi satu dan lainnya ). Dalam mewujudkan pola kerjasama, kita memerlukan konsep DALES CONCEPT yaitu DIRECTION, APPRECIATION, LOYALITY, EMPATHY, SYNERGY.
Dalam kesuksesan bisnis, kesuksesan yang telah kita raih bukan semata-mata karena prestasi perusahaan atau pegawai, namun ada kekuatan yang tidak terlihat turut campur tangan bagi kesuksesan kita. Ya itulah tangan-tangan Tuhan ( INVISIBLE POWER ). Invisible power akan dengan mudah menghampiri kita, manakala kita melakukan lima prinsip :
PERTAMA, Meyakini bahwa keberhasilan adalah hanya sebuah titipan.
KEDUA, Setiap yang kita ambil dan keluarkan akan diminta pertanggungjawabannya.
KETIGA, Mengejar keuntungan jangka panjang.
KEEMPAT, Mempersiapkan diri untuk menjemput akhir kehidupan.
KELIMA, Bekerja keras tanpa henti untuk meraih kesempatan yang tak terbatas.
Sumber : Kaskus
Rahasia Sukses Jualan
Rahasia Sukses Negoisasi & Jualan
Sharing tentang rahasia sukses negoisasi & berjualan atau istilah kerennya : Sell Anything to Anyone at Anytime. Intinya ada 4 konsep, yaitu :
- Trust
- Building Need
- Give Solution
- Closing Sale & Handling Objection
Nah untuk Seri 1, akan saya bahas dulu mengenai Trust. Ok langsung saja ya. Trust itu pada intinya adalah membangun kepercayaan calon pelanggan terhadap kita sebagai penjual. Nah teknik Trust ini sendiri terbagi lagi menjadi 3, yaitu :
1. Reputasi & Referensi
- Penampilan
Ini berhubungan sekali dengan kesan pertama (first impression). Apa yg perlu diperhatikan terkait reputasi tentu saja yg pertama adalah penampilan. Iyalah masa pelanggan mau membeli dari orang yg baunya semerbak tong sampah . Jadi di sini ungkapan Don’t Judge Book by Its Cover harus dibuang jauh-jauh ke laut. Orang akan benar2 menilai kita dari ‘sampul depan’. So, mulai sekarang penampilan benar2 harus diperhatikan sebelum siap tempur, minimal tampilannya klimis, flamboyan, dan eksotik.
Ini berhubungan sekali dengan kesan pertama (first impression). Apa yg perlu diperhatikan terkait reputasi tentu saja yg pertama adalah penampilan. Iyalah masa pelanggan mau membeli dari orang yg baunya semerbak tong sampah . Jadi di sini ungkapan Don’t Judge Book by Its Cover harus dibuang jauh-jauh ke laut. Orang akan benar2 menilai kita dari ‘sampul depan’. So, mulai sekarang penampilan benar2 harus diperhatikan sebelum siap tempur, minimal tampilannya klimis, flamboyan, dan eksotik.
- Jabatan
Kemudian yg selanjutnya dengan gelar dan jabatan kita. Ini tercermin dari kartu nama yg kita berikan kepada pelanggan. Jadi usahakan jabatan yg tertera di kartu nama dibuat sekeren mungkin, contohnya : Senior Sales (padahal juniornya saja tidak ada :p). Intinya mainkanlah kata2 agar orang merasakan efek ‘Wow!’ saat melihat kartu nama kita.
Kemudian yg selanjutnya dengan gelar dan jabatan kita. Ini tercermin dari kartu nama yg kita berikan kepada pelanggan. Jadi usahakan jabatan yg tertera di kartu nama dibuat sekeren mungkin, contohnya : Senior Sales (padahal juniornya saja tidak ada :p). Intinya mainkanlah kata2 agar orang merasakan efek ‘Wow!’ saat melihat kartu nama kita.
- Prestasi
Lalu teknik selanjutnya adalah dengan catatan prestasi. Pastinya pelanggan lebih percaya donk dengan orang yg memiliki banyak prestasi daripada yg tidak. Tapi tenang saja, walaupun tidak punya prestasi setinggi langit secara personal, tetap bisa diakalin. Caranya dengan menggunakan testimoni. Misalkan kita punya pelanggan yg puas dengan produk kita, nah itu jangan disia-siakan. Minta testimoninya, lalu tempel deh di mana2, di website, dinding kantor, profil twitter/fb, dsb. Lebih bagus lagi kalau yg memberikan testimoni orang2 terkenal seperti artis/pejabat.
Lalu teknik selanjutnya adalah dengan catatan prestasi. Pastinya pelanggan lebih percaya donk dengan orang yg memiliki banyak prestasi daripada yg tidak. Tapi tenang saja, walaupun tidak punya prestasi setinggi langit secara personal, tetap bisa diakalin. Caranya dengan menggunakan testimoni. Misalkan kita punya pelanggan yg puas dengan produk kita, nah itu jangan disia-siakan. Minta testimoninya, lalu tempel deh di mana2, di website, dinding kantor, profil twitter/fb, dsb. Lebih bagus lagi kalau yg memberikan testimoni orang2 terkenal seperti artis/pejabat.
2. Keakraban & Kemiripan
Nah, teknik kedua ini menurut saya cukup unik. Karena teknik ini bisa juga diterapkan untuk negoisasi. Keakraban & kemiripan maksudnya kita melakukan proses penyamaan (mirroring) terhadap lawan bicara. Apa saja yg disamakan? Check it out.
- Topik
Kita bisa melakukan persamaan topik dengan calon pelanggan, misalnya tentang hobi, asal daerah, dsb. Biasanya persamaan hobi adalah yg paling efektif. Makanya sebelum negoisasi atau jualan, usahakan berbasa-basi dulu dengan tanya hobi. Kalau kebetulan hobinya sama, wah syukur alhamdulillah. Tapi kalau tidak pun sama2in aja deh. :p
Kita bisa melakukan persamaan topik dengan calon pelanggan, misalnya tentang hobi, asal daerah, dsb. Biasanya persamaan hobi adalah yg paling efektif. Makanya sebelum negoisasi atau jualan, usahakan berbasa-basi dulu dengan tanya hobi. Kalau kebetulan hobinya sama, wah syukur alhamdulillah. Tapi kalau tidak pun sama2in aja deh. :p
- Gerakan
Di sini kita berusaha meniru gerakan lawan bicara. Karena tanpa disadari, dari alam bawah sadarnya lawan bicara akan lebih menerima orang yg memiliki kesamaan gerakan dengan dia sewaktu berbicara.
Di sini kita berusaha meniru gerakan lawan bicara. Karena tanpa disadari, dari alam bawah sadarnya lawan bicara akan lebih menerima orang yg memiliki kesamaan gerakan dengan dia sewaktu berbicara.
Caranya??
Yg pertama adalah dengan menyamakan tarikan nafas. Kalau misalkan cepat ikutin cepat, kalau lambat ikutin lambat.
Yg pertama adalah dengan menyamakan tarikan nafas. Kalau misalkan cepat ikutin cepat, kalau lambat ikutin lambat.
Yg kedua adalah dengan menyamakan posisi dengan selisih 3-10 detik dari waktu gerakan dia memulai. Jadi kalau misalkan dia tiba2 kakinya dilipat, maka 10 detik kemudian usahakan kaki kita jg dilipat. Atau ketika dia mengubah posisi duduk, 10 detik kemudian kita juga mengikuti posisi duduknya dia.
Yg ketiga adalah dengan menyamakan kualitas suara kita. Kalau kecepatan bicaranya cepat/lambat, kita ikuti juga cepat/lambatnya.
3. Konkruen
Teknik ketiga ini terkait dengan ekspresi wajah saat berbicara. Jadi kalau dalam proses deal atau memberikan janji tentang produk yg ditawarkan, usahakan raut muka yg ditunjukkan benar2 serius, jangan sampai terkesan cengengesan. Intinya sesuaikan ekspresi dengan situasi yg sedang terjadi. Kalau lawan bicara menghendaki kita serius, ya berarti serius namun kalau memang suasananya santai, senyam-senyum sedikit it’s ok lah.
Ok, itu mungkin sharing dari saya mengenai konsep TRUST, yaitu membangun kepercayaan terhadap calon pelanggan agar mereka terlebih dulu percaya secara personal terhadap kita.
Rahasia Sukses Negoisasi & Jualan
Rahasia sukses yg kedua yaitu Building Need (membangun kebutuhan).
Nah sebelumnya saya ingin menjelaskan mengenai 2 kebutuhan dasar manusia. Ini penting agar kita bisa tahu kebutuhan sebenarnya dari setiap orang di muka bumi ini.
- Kebutuhan yg pertama : Menghindari Kesengsaraan & Rasa Sakit
- Kebutuhan yg kedua : Mengejar Kenikmatan
2 kebutuhan di atas merupakan kebutuhan yg benar2 paling dasar sehingga dapat kita manfaatkan untuk meyakinkan orang agar mau nurut dan membeli produk yg ditawarkan. Untuk prosentase besarnya kebutuhan yg pertama 80% sedangkan yg kedua 20%.
Kenapa yg pertama 80%? Karena manusia itu lebih takut kehilangan daripada mendapatkan sesuatu. Biar lebih yakin saya beri sedikit contoh. Misalkan ada 2 kasus :
a. Kamu bawa uang 10 juta dalam tas. Ceritanya kamu sedang naik perahu nih eh tiba2 tasnya jatuh ke sungai yg cukup dalam padahal kamu sama sekali tidak bisa bisa berenang.
b. ada uang 10 juta yg ditenggelamkan ke dalam sungai. Bagi yg ingin mengambil dipersilakan asal berani nyemplung ke air. Tapi kamu tidak bisa berenang.
Nah sekarang saya tanya, kira2 dari kasus 1 dan 2, situasi mana yg akan membuatmu nyebur ke sungai padahal kamu tahu tidak bisa berenang?
Sebagian besar pilihannya pasti kasus yang pertama. Nah ilustrasi ini sedikitnya menunjukkan fenomena tersebut.
Sebagian besar pilihannya pasti kasus yang pertama. Nah ilustrasi ini sedikitnya menunjukkan fenomena tersebut.
Lanjut ya. Ok sekarang kita sudah tahu 2 kebutuhan dasar manusia beserta prioritasnya. Lalu bagaimana cara memanfaatkannya? Caranya adalah dengan menggunakan sifat manusia lainnya, yaitu Greedy (serakah).
Contoh :
Sering denger iklan yg cara marketing-nya seperti ini :
- Bagi 5 pembeli pertama akan dapat diskon 70 %
- Pembelian yg dilakukan sebelum tanggal 8 Januari, akan dapat bonus hadaiah piring cantik
- Beli 10 gratis 5
- Ajak 3 temanmu untuk makan di restoran ini & cukup bayar untuk 1 orang
- dsb, dsb, dsb
- Bagi 5 pembeli pertama akan dapat diskon 70 %
- Pembelian yg dilakukan sebelum tanggal 8 Januari, akan dapat bonus hadaiah piring cantik
- Beli 10 gratis 5
- Ajak 3 temanmu untuk makan di restoran ini & cukup bayar untuk 1 orang
- dsb, dsb, dsb
Saya yakin kalian pasti tidak merasa asing dengan berbagai tagline di atas. Tanpa disadari mereka sebenarnya sedang Teknik mempengaruhi orang dari Gak Mau –> Mau (Impulse Buying). How?? Sabar2, pelan2 ya.
Tadi kita sudah membahas tentang 2 kebutuhan dasar manusia, nah sekarang saya akan beri tahu lagi 6 kebutuhan manusia modern yg lebih detail.
- Butuh kepastian, kenyamanan & keamanan
- Butuh variasi & hal2 yg baru
- Butuh cinta, hubungan & perasaan yg sm thd orang lain
- Butuh unggul & berbeda dr yg lain
- Butuh tmbuh jd lebih baik (be better)
- Butuh bermanfaat & berkontribusi Untuk orang lain
Dari 6 kebutuhan di atas, setiap manusia punya 1 kebutuhan yg paling dominan. Contohnya misalkan orang yg berjiwa sosial pasti dominan yg no. 6.
Balik lagi ke teknik cara pengaruhi orang dari G Mau –> Mau. Saya beri contoh saja ya, misalkan saya sedang jualan apartemen kepada seseorang namun orangnya agak kurang berminat.
Yg pertama akan saya lakukan adalah tanya sama dia apa yg paling penting dalam hidupunya. Misalkan dia jawab keluarga berarti orang tersebut memiliki kebutuhan dominan di no. 3. Nah berarti pendekatan yg akan dilakukan untuk orang tersebut adalah :
“Boleh tahu pak anaknya ada berapa?” Misalkan dia jawab punya 2 anak perempuan semua,
“Oh pak, kebetulan sekali kami punya kamar yg cocok untuk putri Bapak. Di sebelah sana ada kamar yg suasananya sangat feminin pas skali untuk putrinya. Lalu di sebelahnya ada ruang keluarga bisa untuk kumpul dengan saudara2 dan bisa juga lho pak untuk barbeque bareng.”
“Oh pak, kebetulan sekali kami punya kamar yg cocok untuk putri Bapak. Di sebelah sana ada kamar yg suasananya sangat feminin pas skali untuk putrinya. Lalu di sebelahnya ada ruang keluarga bisa untuk kumpul dengan saudara2 dan bisa juga lho pak untuk barbeque bareng.”
Jadi intinya adalah kita sentuh orang tersebut pada kebutuhan yg paling penting dalam hidupunya. Gimana, sudah mulai terbayang? Hal ini berlaku juga untuk 5 kebutuhan lainnya.
Lalu misalkan kita sudah menggunakan teknik di atas, tapi trnyata masih tidak mempan. Caranya adalah dengan menggunakan Magic Question yg biasanya sangat ampuh :
“Supaya Bapak mau, apa sayaratnya?”
Nah ketika kita tanyakan ini, biarkan pelanggannya menjawab sendiri. Kita cukup diam saja dan tidak perlu sok2 memberikan contoh syaratnya apa. Ketika sudah dijawab, langsung kita counter balik. Jika kita bisa memenuhi syaratnya si pelanggan, 90% dia akan melakukan pembelian karena telah termakan omongannya sendiri. Secara tidak langsung kita sudah membuat untuk dia berjanji agar beli asalkan syaratnya terpenuhi.
Bagaimana, teknik yg menarik bukan?
Atau setelah membaca tulisan ini, ada yg tiba merasa pernah diperlakukan seperti ini waktu dulu? Hehehe..
Atau setelah membaca tulisan ini, ada yg tiba merasa pernah diperlakukan seperti ini waktu dulu? Hehehe..
Ok deh, itu dia teknik Building Need yg intinya bagaimana kita memanfaatkan sifat2 kebutuhan dasar manusia untuk diterapkan dalam pendekatan yg sifatnya negoisasi maupun tagline marketing produk.
Rahasia Sukses Negoisasi & Jualan
1. Give Solution
Sebelum memberikan solusi kepada pelanggan dengan produk yg kita tawarkan, harus dicermati dulu positioning pribadi kita ada di mana, sebagai Salesman, Konsultan atau Expert.
Perbedaannya adalah kalau kita merasa sebagai seorang Expert, berarti kita mengetahui seluk beluk bidang/produk yg kita tawarkan. Tidak hanya itu, kita juga punya kapabilitas untuk membandingkannya dengan produk lain serta dengan baik menjelaskan diferensiasinya.
Sebenarnya status Salesman, Konsultan atau Master itu tidak hanya dilihat dari jabatan atau ijazah sarjana belakan, namun lebih kepada pengalaman & cara penyampaian kita kepada pelanggan. Makanya tidak jarang ditemui seseorang yg jabatannya hanya salesman tapi cara penyampaiannya seperti seorang pakar yg sangat ahli, apalagi jika didukung dengan penampilannya yg ciamik. Beuh! Makin terbuai deh tuh pelanggan.
Ok itu dari sisi positioning pribadi. Intinya adalah kita harus tahu betul kemampuan kita sampai di mana saat jualan/negoisasi. Jangan sampai terkesan “sok tahu” yg nantinya justru bisa berakibat fatal. Pelanggan tidak akan percaya lagi dengan kita.
Nah lanjut, setelah tahu positioning pribadi, baru kita tawarkan solusi dari produk kita kepada pelanggan. Dan caranya adalah :
- Ultimate Advantage : Berikan pelanggan nilai tambah dari produk kita dibandingkan yg lain.
Contoh : Kalau jual apartemen, beri tahu kalau ada service++ seperti cuci baju gratis selama sebulan, setiap pagi disajikan susu murni, dsb. - Sensational Offer : Ada penawaran sensasional yg dierikan (tipsnya walaupun sebenarnya tidak terlalu sensasional tapi bungkuslah agar seheboh mungkin agar pelanggan terkesima).
Contoh : Diskon 90% hanya 1 hari, Langsung hadiah mobil tanpa diundi (ini beneran sensational, hehe.. :p) - Powerful Promise : Terkait dengan janji yg kita berikan kepada pelanggan kalau jadi membeli.
Contoh : Garansi duit kembali 100%
2. Close the Sale
Teknik ini dilakukan jika pelanggan sudah hampir 90% akan deal dengan kita. Tapi hati2 karena masih ada 10% kemungkinan pelanggan tidak jadi, makanya harus benar2 diperhatikan teknik ini agar tidak kecolongan.
Teknik yg pertama adalah dengan menggunakan nada suara yg rendah tapi mantap. Soalnya kalau pake nada suara yg tinggi (walaupun meyakinkan), biasanya secara psikologis pelanggan merasa seperti ditantang maka efeknya jadi kurang baik.
Yg kedua adalah mengenai klarifikasi & konfirmasi. Jangan gunakan pertanyaan yg dapat memancing pelanggan akhirnya menjawab ‘Tidak’.
Contoh (jualan apartemen) : “Ok, Bapak jadi kan beli apartemen ini?”
Contoh (jualan apartemen) : “Ok, Bapak jadi kan beli apartemen ini?”
Nah pertanyaan di atas dapat memancing pelanggan untuk berpikir ulang apakah jadi membeli apartemen tersebut. Makanya tidak usah sok basa-basi bertanya lagi kalau memang sebelumnya pelanggan sudah setuju.
Atau jika memang ingin tetap berbasa-basi, gunakan pertanyaan yg dua2nya jawabannya “Ya”.
Contoh (jualan apartemen) : “Jadi Bapak ingin dinding apartemennya biru atau merah nih?”
Contoh (jualan apartemen) : “Jadi Bapak ingin dinding apartemennya biru atau merah nih?”
Gimana sudah menangkap kan maksudnya. Walaupun ini terkesan sepele tapi terkadang dapat berakibat fatal juga. Seringkali negoisasi yg harusnya sudah hampir 100% berhasil, tiba2 kecolongan di menit-menit akhir gara2 satu pertanyaan ‘bodoh’.
Ok, sekian sharing dari saya mengenai 3 Seri dari Rahasia Sukses Jualan & Negoisasi. Untuk yg sudah berkecimpung di dunia bisnis/marketing dapat langsung dipraktekkan maupun bisa jadi wawasan tambahan.
Sumber : http://lewatmulut.com/2011/11/rahasia-sukses-jualan-1/
Bagaimana Memperpendek Sales Cycle
Pernahkah anda berbicara dengan calon pelanggan yang anda tahu bahwa dia sangat membutuhkan jasa anda dan ketika anda akan membuat appointment untuk bertemu dengan mereka, kemudian mereka berkata “ Saya mau pikir-pikir dulu, nanti saya telpon baik”.
Kemudian apa yang terjadi?
Apakah mereka menelpon anda besoknya atau seminggu kemudian?
Survey membuktikan bahwa 99 kali dari 100, calon pelanggan anda tidak akan melakukan langkah selanjutnya. Anda telah mendapatkan satu calon pembeli yang potensial yang tidak membeli dari anda. Membuat anda pusing tujuh keliling bukan, ketika menyadari bahwa anda memiliki lusinan bahkan ratusan calon pelanggan yang memerlukan produk atau jasa anda tetapi tidak jadi mengadakan pembelian.
Sebetulnya ini kesalahan siapa?
Benar, calon pelangganlah yang kelihatannya tidak dapat membuat keputusan atau tidak melihat manfaat dari pembelian tersebut, tetapi jika anda ingin menjual lebih banyak, adalah kewajiban anda untuk menghindari situasi ini.
Strategi pemasaran anda harus membuat calon pelanggan anda bergerak ka arah yang benar. Kemudian mereka menunggu momentum untuk mendekati anda dengan sendirinya.
Jadi, apa yang harus anda lakukan agar calon pelanggan anda mendekati anda?
1. Pasarkan barang anda kepada orang-orang yang sangat ingin membeli produk atau jasa anda. Lebih mudah menggelindingkan batu dari atas bukit ke bawah dari pada mendorongnya ke atas bukit. Jauh lebih mudah menjual kepada orang yang sedang mencari solusi dari pada kepada orang yang tidak memerlukan atau menginginkan apa yang anda jual.
2. Dapatkan kepercayaan dari calon pelanggan anda. Jika anda belum berhubungan dengan calon pelanggan anda, sebaiknya anda berasumsi bahwa mereka belum mengetahui bahwa produk atau jasa adalah yang terbaik. Dari pada mengatakan bahwa produk anda adalah yang paling top, demostrasikan kehebatan dan nilai dari produk anda. Gunakan strategi pemasaran anda ini untuk membantu mereka mendapatkan pengalaman dari qualitas yang akan mereka terima ketika mereka membeli dari anda.
3. Jangan mendorong (memaksa) calon pembeli untuk membeli; biarkan mereka menarik dirinya untuk mengadakan pembelian. Sementara tugas anda adalah membeberkan alasan-alasan yang masuk akal mengapa calon pelanggan harus membeli sekarang juga, alasan yang sesungguhnya adalah bukan alasan-alasan dari anda tetapi alasan dari mereka. Biarkan calon pelanggan anda yang mengatakan kepada anda mengapa mereka ingin membeli produk atau jasa anda.
Bagi kebanyakan orang, menciptakan sense of urgency adalah lebih mudah dari pada membuat calon pelanggan membeli. Tugas anda hanyalah menghilangkan keberatan-keberatan calon pelanggan anda dan menciptakan jalan yang jelas menuju pembelian.
Dengan sedikit perubahan dalam strategi pemasaran anda, anda dapat meningkatkan penjualan beberapa kali lipat dengan mudah.
Sumber : http://pemasaranukm.blogspot.com/2009/07/membuat-recana-pemasaran.html













